ArlojiNesia.com, Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menyerukan sebuah ajakan krusial kepada seluruh pemangku kepentingan di Tanah Papua. Dalam sebuah forum strategis di Jayapura, Haluk menekankan urgensi bagi wilayah paling timur Indonesia ini untuk secara proaktif merangkul berbagai program prioritas pemerintah pusat. Ajakan ini bukan sekadar imbauan, melainkan dorongan fundamental untuk memperkuat ekonomi masyarakat lokal dan mengakselerasi roda pembangunan daerah, demi mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan Ribka Haluk dalam Konferensi Analisis Papua Strategis Ketiga yang berlangsung di Papua Youth Creative Hub, Jayapura, pada Jumat, 29 Mei 2026. Acara tersebut menjadi platform penting untuk membahas masa depan pembangunan Papua. Dalam sesinya, Wamendagri secara tegas menggarisbawahi bahwa inisiatif strategis pemerintah, termasuk Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) yang diusung oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto, harus disambut dengan antusiasme tinggi. Ini bertujuan agar dampak positif dari program-program tersebut dapat dirasakan secara merata dan substansial oleh seluruh lapisan masyarakat Papua.
Menjemput Peluang dan Program Prioritas Nasional
Konsep "Quick Win" dari Presiden, menurut Ribka Haluk, memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak di Papua. Program-program ini dirancang untuk memberikan hasil yang nyata dan cepat, sehingga potensi manfaatnya bisa langsung terasa di tengah masyarakat. Dengan demikian, inisiatif ini bukan hanya sekadar kebijakan, melainkan sebuah kesempatan emas yang harus ditangkap dengan sigap dan terencana.
Salah satu contoh konkret yang disoroti adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ribka Haluk menjelaskan bahwa program ini memiliki dampak yang jauh melampaui sekadar pemenuhan gizi. Ia melihat MBG sebagai sebuah katalisator ekonomi lokal yang potensial, mampu menggerakkan sektor pertanian, perikanan, hingga berbagai usaha mikro dan kecil di daerah.
Implementasi MBG, lanjutnya, secara inheren menciptakan rantai pasok lokal yang kuat. Permintaan bahan pangan dalam skala besar untuk program ini akan mendorong pembelian produk-produk pertanian dan perikanan langsung dari petani serta nelayan setempat. Dengan demikian, program ini tidak hanya mengatasi masalah gizi, tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi akar rumput, memberikan pendapatan tambahan, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Papua. Efek berantai yang ditimbulkan diyakini sangat besar dan transformatif bagi perekonomian lokal.
Tantangan Pembangunan dan Urgensi Kolaborasi
Namun, di tengah optimisme tersebut, Ribka Haluk tidak menampik adanya tantangan serius yang masih membayangi pembangunan Papua. Ia secara terbuka menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di Papua masih berada di atas rata-rata nasional. Fakta ini, menurutnya, merupakan "pekerjaan rumah bersama" yang mendesak untuk diselesaikan.
Kondisi tersebut menuntut upaya kolektif dan sinergis dari berbagai pihak. Wamendagri menekankan bahwa penyelesaian masalah kemiskinan di Papua tidak dapat hanya dibebankan pada satu entitas saja. Diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah (Pemda) di seluruh wilayah Papua, serta seluruh elemen masyarakat setempat, mulai dari tokoh adat, agama, hingga komunitas pemuda.
Memperkuat Otonomi Khusus untuk Kesejahteraan OAP
Dalam konteks penanganan tantangan ini, penguatan pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) Papua menjadi poin krusial. Ribka Haluk menegaskan bahwa Otsus harus benar-benar berfungsi sebagai instrumen efektif untuk menghadirkan perlindungan, pemberdayaan, dan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi Orang Asli Papua (OAP). Tujuan mulia Otsus adalah memastikan bahwa hak-hak dan aspirasi OAP terakomodasi penuh dalam setiap kebijakan pembangunan.
Pemerintah pusat, tambahnya, secara konsisten mendorong evaluasi dan penguatan tata kelola Otsus. Upaya ini mencakup penyempurnaan aspek regulasi yang relevan, serta memastikan bahwa setiap kebijakan yang lahir memiliki keberpihakan yang nyata terhadap masyarakat Papua. Proses ini penting untuk memastikan dana dan kebijakan Otsus benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi penduduk asli Papua.
Sinergi Multistakeholder Menuju Indonesia Emas 2045
Lebih lanjut, Ribka Haluk mengajak seluruh unsur daerah untuk mempererat sinergi dalam mengawal pembangunan Papua ke depan. Keterlibatan aktif dari berbagai lembaga dan komunitas adalah kunci keberhasilan. Pemda, Majelis Rakyat Papua (MRP), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua, tokoh adat, tokoh agama, hingga komunitas masyarakat sipil harus bersatu padu. Setiap pihak memiliki peran unik dan kontributif dalam memastikan arah pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam sorotan yang lebih luas, Wamendagri juga menyinggung arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Visi ini adalah cita-cita besar bangsa untuk menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi pada tahun peringatan seratus tahun kemerdekaan. Ribka Haluk mengingatkan bahwa Papua tidak boleh tertinggal dalam perjalanannya menuju masa depan gemilang ini.
Ia menekankan pentingnya bagi Papua untuk mempersiapkan diri sejak dini agar mampu mengambil peran strategis dalam proses transformasi Indonesia menjadi negara maju. Kesiapan ini mencakup peningkatan sumber daya manusia, pengembangan infrastruktur, dan penguatan ekonomi lokal. Menurutnya, ini adalah sebuah keniscayaan sejarah. "Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita pasti akan ke sana," tandasnya, menggarisbawahi bahwa masyarakat Papua harus memahami dan beradaptasi dengan arah besar negara ini.
Dengan demikian, ajakan Wamendagri Ribka Haluk bukan hanya sekadar dorongan untuk memanfaatkan peluang, melainkan sebuah seruan untuk berkolaborasi, berinovasi, dan bergerak maju secara kolektif. Tujuannya adalah memastikan Papua menjadi bagian integral dari kemajuan Indonesia, mewujudkan kesejahteraan yang adil dan merata, serta berkontribusi nyata dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. Ini adalah momentum bagi Papua untuk bangkit dan bersinar, membangun masa depan yang lebih cerah bagi generasi mendatang.
Sumber: news.detik.com